Ilmu yang bermanfaat dari tetangga.
DIAM ITU EMAS
Negara ini negara yang bising. Itu yang ada dipikiran saya. Bagaimana tidak, sesekali waktu ada saja berita-berita yang membuat heboh negara, mulai dari fakta sampai yang baru menjadi kabar burung sudah diulas sedemikian rupa. Media massa sampai ke ibu-ibu yang sedang berbelanja pun sudah biasa “sibuk” membicarakan hal-hal yang sedang up date. Tapi sayang, yang kebanyakan orang lakukan adalah berbicara, berkomentar, menyalahkan, menghina, bahkan mencaci, yang ujung-ujungnya “perang urat saraf” untuk mempertahankan omongan masing-masing.
Mengapa harus begini? Jelas-jelas di sila kedua Pancasila saja disebutkan “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Dimanakah rasa kemanusiaan yang menginginkan keadilan dan menunjukkan adab yang baik? Ataukah Pancasila kini hanya sebatas slogan dan semboyan yang diagung-agungkan hanya karena tidak ingin dicap sebagai pengkhianatan negara?
Mungkin sudah biasa kita dengar sebuah peribahasa dari luar yang menyebutkan “diam itu emas” (silent is golden) yang saya rasa perlu diterapkan di masyarakat kita ini. Saatnya bangsa ini menaikkan lagi derajatnya dengan tidak banyak berbicara. Terlalu banyak orang yang berkomentar hanya membuat gerah, hanya menjadi tontonan. Yang tidak disadari oleh masyarakat sebenarnya bahwa mereka membutuhkan solusi berupa kerja nyata dan tindakan, bukan hanya teori dan retorika.
Nenek moyang kita dahulu telah membekali bangsa kita dengan peribahasa “tong penuh tak berguncang, tong setengah berguncang” yang berarti orang pandai selalu berdiam diri seperti tidak mengetahui apa-apa, sementara orang yang bodoh banyak berbicara”. Harusnya ini menjadi cerminan budaya kita, lebih banyak diam dan meluangkan waktu untuk berpikir, mencari solusi, bukan berbicara ke sana-kemari namun pada akhirnya menunjukkan kesalahan sendiri.
Bukanlah lebih nyaman tinggal di negara yang masyarakatnya menyibukkan diri memikirkan untuk kemajuan diri dan masyarakatnya? Bukankah akan lebih maju negara kita jika semua orang ikut bersaing secara sehat dengan usaha dan bukan kata-kata?
Apa boleh buat. Saat ini, inilah yang terjadi. Tulisan ini pun mungkin tak berarti.
Namun, “perbaikan” harus dimulai (dan sebagian telah dimulai oleh orang-orang hebat di luar sana). Tunjukkan saja bahwa diam itu memang emas dengan tindakan nyata, biar masyarakat yang menilai sendiri mana yang terbaik.
NB: Perlu direnungi bahwa dengan diam, kita lebih mudah berkomunikasi dengan Sang Pencipta dan dengan diri sendiri.
Fisika di Balik Keindahan Bulu Merak
Orang terkaya no. 2 di du…
Orang terkaya no. 2 di dunia, Warren Buffet, memberi nasehat
“Jauhkan dirimu dari pinjaman bank atau kartu kredit & berivestasilah dengan apa yg kau miliki serta ingat:
-
Uang tdk menciptakan manusia, manusialah yg menciptakan uang.
-
Hiduplah sederhana sebagaimana dirimu sendiri.
-
Jangan melakukan apapun yg dikatakan orang, dengarkan mereka, tapi lakukan apa yg baik saja.
-
Jangan memakai merk, pakailah yg benar² nyaman untukmu.
-
Jangan habiskan uang utk hal-hal yg tidak benar-benar penting.
-
Jangan terlena Asuransi, karena uangmu mati & tdk bisa digunakan dalam waktu 10 thn! baiknya buka rekening baru & buat asuransi kreasimu sendiri.
-
With money:
You can buy a house, but not a home.
You can buy a clock, but not time.
You can buy a bed, but not sleep.
You can buy a book, but not knowledge.
You can get a position, but not respect.
You can buy blood, but not life.
So find your happiness inside you. -
Jika itu telah berhasil dalam hidupmu, berbagilah & ajarkanlah pada orang lain.
“Orang yang berbahagia bukanlah orang yang hebat dalam segala hal, tapi orang yang bisa menemukan hal sederhana dalam hidupnya dan mengucap syukur”
Permulaan
Alhamdulillah.
Selesai juga membuat blog yang dari dulu diinginkan. Bukan karena terlalu sibuk atau apapun tapi memang “dorongan” itu belum muncul sampai sekarang. Semoga dengan adanya blog ini dapat “membangkitkan” tulisan-tulisan yang dahulu hanya “terbenam” dan “terkubur”.
